A. Pengertian Genetik
Genetika adalah salah satu cabang penting dalam Biologi masa kini.
Ilmu ini mempelajari pewarisan sifat yang dimiliki satu individu ke individu
lainnya. Bidang kajian genetika dimulai dari molekul hingga populasi. Secara
umum, genetika berusaha menjelaskan bagaimana informasi itu ditransmisikan dari
suatu individu ke individu yang lain.
Genetika disebut juga
ilmu keturunan, berasal dari kata genos (bahasa latin), artinya suku
bangsa-bangsa atau asal-usul. Secara “Etimologi”kata genetika berasal dari kata
genos dalam bahasa latin, yang berarti asal mula kejadian. Namun, genetika
bukanlah ilmu tentang asal mula kejadian meskipun pada batas-batas tertentu
memang ada kaitannya dengan hal itu juga. Genetika adalah ilmu yang mempelajari
seluk beluk alih informasi hayati dari generasi kegenerasi. Oleh karena cara
berlangsungnya alih informasi hayati tersebut mendasari adanya perbedaan dan
persamaan sifat diantara individu organisme, maka dengan singkat dapat pula
dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat. Dalam ilmu ini
dipelajari bagaimana sifat keturunan (hereditas) itu diwariskan kepada anak
cucu, serta variasi yang mungkin timbul didalamnya. Namun, bahan sifat
keturunan itu tidaklah bersifat baka. Selalu mengalami perubahan, berangsur
atau mendadak. Seluruh makluk bumi mengalami evolusi termasuk manusia. Evolusi
itu terjadi karena perubahan bahan sifat keturunan, dan dilaksanakan oleh
seleksi alam.
B. Pengaruh Faktor Genetik pada Pendidikan dalam Pandangan Islam
Pertumbuhan setiap indivividu sudah
terprogam sejak masa konsepsi yang dipengaruhi oleh faktor genetis. Perubahan
panjang, tinggi, berat badan bayi akan terjadi secara otomatis karena pengaruh
genetika (keturunan). Faktor keturunan lebih menekankan pada aspek biologis
atau herediter yang dibawa melalui aliran darah dalam kromosom. Faktor genetis
cenderung bersifat statis dan merupakan predisposisi untuk mengarahkan
pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Kalau sejak awal orang tua memiliki
karakteristik fisiologis yang sehat, maka akan menurunkan generasi yang sehat
pula. Sebaiknya bila orang tua tidak sehat, maka keturunanya pun akan mengalami
gangguan atau penyimpangan secara fisik atau psikis (Papalia, Old &
Fieldman, 1998: 2004).
Menurut Mansyur Ali Rajab
menyebutkan bahwa ada lima macam yang dapat diwariskan dari orang tua kepada
anaknya, yaitu : pertama warisan yang bersifat jasmaniah seperti warna
kulit, bentuk tubuh yang jangkung atau cebol, sifat rambut dan sebagainya kedua
pewarisan yang bersifat intelektual, seperti kecerdasan dan kebodohan, ketiga
pewarisan yang bersifat tingkah laku, seperti tingkah laku terpuji atau
tercela, lemah lembut, atau keras kepala, taat atau durhaka, keempat pewarisan
yang bersifat alamiah, yaitu pewarisan internal yang dibawa sejak kelahiran
anak tanpa pengaruh dari faktor eksternal, kelima pewarisan yang
bersifat sosilogis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Dalam al-Qur’an proses ini dikatakan
sebagai proses nutfah amsyaj, pencampuran sperma dan ovum, yang
masing-masing memiliki 46 kromosom21, sebagaimana firman Allah surat al-Insaan
ayat : 2
إنَّا خلقنا الإنسان من نطفةٍ أمشاجٍ
نَبْتَليهِ فجعَلناه سميعا بصيرا
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani
yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan),
karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat". (Al-Insaan : 2)
C. Pengaruh Lingkungan pada Pendidikan dalam
Pandangan Islam
Selain faktor genetik
sebagai faktor yang berpengaruh, juga terdapat faktor lainnya yang sangat
bekerja aktif pada diri manusia, diantara yang terpenting adalah: pendidikan,
kondisi keluarga, masyarakat, ekonomi, budaya, makanan, udara, iklim dan
sebagainya. Dari faktor-faktor tersebut dapat disingkat dengan sebuah kata,
yaitu: lingkungan.
Oleh karenanya, pengaruh
sifat perubahan lingkungan yang ada pada diri manusia ada dua bentuk pemisalan:
1.
Sifat dan kriteria yang nampak dalam bentuk kemampuan dan kesiapan
manusia, seperti: penyakit TBC, seorang
anak yang dilahirkan dari orang tua yang
berpenyakit demikian, akan berpotensi pula akan terserang penyakit tersebut.
Akan tetapi jika anak tersebut sudah dipisahkan sejak lahirnya dan dipindahkan
ke lingkungan yang sehat, maka memperoleh kesehatannya.
2.
Anak yang dilahirkan melalui asal usul genetik yang baik, maka
perkembangan anak tersebut nantinya akan beradaptasi dengan lingkungan dimana
ia tinggal. Jika ia tinggal dalam lingkungan yang kurang mendukung, maka
kemampuannya pun akan pudar. Begitu juga sebagai sesuatu yang mungkin melalui
pengaruh iklim dan makanan dapat merubah kondisi badan bagi manusia.
Sebagaimana akhlak dan adat setempat dalam sebuah lingkungan akan membuat
perubahan pada tingkatan ruh dan kejiwaan manusia.
Lingkungan memiliki peran yang besar
bagi perubahan yang positif atau negatif pada individu. Lingkungan yang baik
tentu akan membawa pengaruh positif bagi individu, sebaliknya lingkungan yang
kurang baik akan cenderung memperburuk perkembangan individu.
Seorang psikolog ekologis, Urie
Brofenbrenner (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2004) menyatakan bahwa
lingkungan tersebut bersifat stratifikasi yakni berlapis-lapis dari yang
terdekat sampai yang terjauh. Pengaruh lingkungan menjadi lebih kuat pada
periode sensitif. Masing-masing pertumbuhan system organ atau anggota tubuh
memiliki periode sensitif yang rentan terhadap pengaruh lingkungan.
Pengaruh
lingkungan juga tak kalah penting sebagaimana Nabi SAW menerangkan bagaimana
pengaruh orangtua terhadap agama, moral dan
psikologi umum dari sosialisasi dan perkembangan anak-anak mereka, yaitu :
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ...
Artinya : Tiadalah seorang anak itu
dilahirkan kecuali dalam keadaan suci, maka kedua orangtuanyalah yang
menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi….(HR.
al-Bukhary)
Setiap anak terlahir dengan kesiapan
fitrah untuk menganut agama yang benar, hanya saja kedua orangtuanya yang
mempengaruhi anak dan mengarahkannya pada agama lain, karenanya maka Nabi Saw
berwasiat :
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأَرْبَعٍ لِمَالِهَا
وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ
يَدَاكَ
Artinya : “Wanita itu dinikahi
karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya
dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya karena jika tidak binasalah
kedua tanganmu”. (HR. al-Bukhary).
Dalam bentuk metaforik, Nabi Saw. mengingatkan kita
bagaimana persahabatan yang baik dapat mempengaruhi karakter seseorang menjadi
baik begitu pula sebaliknya, seperti sabda beliau :
حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا
بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ
وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لَا
يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ
وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا
خَبِيثَةً
Artinya : Persamaan teman yang baik dan teman yang
buruk seperti pedagang minyak kesturi dan peniup api tukang besi. Si pedagang
minyak kesturi mungkin akan memberinya kepadamu atau engkau membeli kepadanya
atau setidaknya engkau dapat memperoleh bau yang harum darinya, tapi si peniup
api tukang besi mungkin akan membuat pakaianmu terbakar atau mungkin engkau
akan mendapat bau yang tidak sedap darinya (HR. al-Bukhary).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar