Senin, 30 Desember 2013

Pengaruh Faktor Warisan (Genetik) dan Lingkungan dalam Pandangan Islam


A.      Pengertian Genetik
Genetika adalah salah satu cabang penting dalam Biologi masa kini. Ilmu ini mempelajari pewarisan sifat yang dimiliki satu individu ke individu lainnya. Bidang kajian genetika dimulai dari molekul hingga populasi. Secara umum, genetika berusaha menjelaskan bagaimana informasi itu ditransmisikan dari suatu individu ke individu yang lain.
Genetika disebut juga ilmu keturunan, berasal dari kata genos (bahasa latin), artinya suku bangsa-bangsa atau asal-usul. Secara “Etimologi”kata genetika berasal dari kata genos dalam bahasa latin, yang berarti asal mula kejadian. Namun, genetika bukanlah ilmu tentang asal mula kejadian meskipun pada batas-batas tertentu memang ada kaitannya dengan hal itu juga. Genetika adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk alih informasi hayati dari generasi kegenerasi. Oleh karena cara berlangsungnya alih informasi hayati tersebut mendasari adanya perbedaan dan persamaan sifat diantara individu organisme, maka dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat. Dalam ilmu ini dipelajari bagaimana sifat keturunan (hereditas) itu diwariskan kepada anak cucu, serta variasi yang mungkin timbul didalamnya. Namun, bahan sifat keturunan itu tidaklah bersifat baka. Selalu mengalami perubahan, berangsur atau mendadak. Seluruh makluk bumi mengalami evolusi termasuk manusia. Evolusi itu terjadi karena perubahan bahan sifat keturunan, dan dilaksanakan oleh seleksi alam.
B.       Pengaruh Faktor Genetik pada Pendidikan dalam  Pandangan Islam
Pertumbuhan setiap indivividu sudah terprogam sejak masa konsepsi yang dipengaruhi oleh faktor genetis. Perubahan panjang, tinggi, berat badan bayi akan terjadi secara otomatis karena pengaruh genetika (keturunan). Faktor keturunan lebih menekankan pada aspek biologis atau herediter yang dibawa melalui aliran darah dalam kromosom. Faktor genetis cenderung bersifat statis dan merupakan predisposisi untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Kalau sejak awal orang tua memiliki karakteristik fisiologis yang sehat, maka akan menurunkan generasi yang sehat pula. Sebaiknya bila orang tua tidak sehat, maka keturunanya pun akan mengalami gangguan atau penyimpangan secara fisik atau psikis (Papalia, Old & Fieldman, 1998: 2004).
Menurut Mansyur Ali Rajab menyebutkan bahwa ada lima macam yang dapat diwariskan dari orang tua kepada anaknya, yaitu : pertama warisan yang bersifat jasmaniah seperti warna kulit, bentuk tubuh yang jangkung atau cebol, sifat rambut dan sebagainya kedua pewarisan yang bersifat intelektual, seperti kecerdasan dan kebodohan, ketiga pewarisan yang bersifat tingkah laku, seperti tingkah laku terpuji atau tercela, lemah lembut, atau keras kepala, taat atau durhaka, keempat pewarisan yang bersifat alamiah, yaitu pewarisan internal yang dibawa sejak kelahiran anak tanpa pengaruh dari faktor eksternal, kelima pewarisan yang bersifat sosilogis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Dalam al-Qur’an proses ini dikatakan sebagai proses nutfah amsyaj, pencampuran sperma dan ovum, yang masing-masing memiliki 46 kromosom21, sebagaimana firman Allah surat al-Insaan ayat : 2
إنَّا خلقنا الإنسان من نطفةٍ أمشاجٍ نَبْتَليهِ فجعَلناه سميعا بصيرا
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat". (Al-Insaan : 2)
C.      Pengaruh Lingkungan pada Pendidikan dalam  Pandangan Islam
Selain faktor genetik sebagai faktor yang berpengaruh, juga terdapat faktor lainnya yang sangat bekerja aktif pada diri manusia, diantara yang terpenting adalah: pendidikan, kondisi keluarga, masyarakat, ekonomi, budaya, makanan, udara, iklim dan sebagainya. Dari faktor-faktor tersebut dapat disingkat dengan sebuah kata, yaitu: lingkungan.
Oleh karenanya, pengaruh sifat perubahan lingkungan yang ada pada diri manusia ada dua bentuk pemisalan:
1.    Sifat dan kriteria yang nampak dalam bentuk kemampuan dan kesiapan manusia, seperti:  penyakit TBC, seorang anak  yang dilahirkan dari orang tua yang berpenyakit demikian, akan berpotensi pula akan terserang penyakit tersebut. Akan tetapi jika anak tersebut sudah dipisahkan sejak lahirnya dan dipindahkan ke lingkungan yang sehat, maka memperoleh kesehatannya.
2.    Anak yang dilahirkan melalui asal usul genetik yang baik, maka perkembangan anak tersebut nantinya akan beradaptasi dengan lingkungan dimana ia tinggal. Jika ia tinggal dalam lingkungan yang kurang mendukung, maka kemampuannya pun akan pudar. Begitu juga sebagai sesuatu yang mungkin melalui pengaruh iklim dan makanan dapat merubah kondisi badan bagi manusia. Sebagaimana akhlak dan adat setempat dalam sebuah lingkungan akan membuat perubahan pada tingkatan ruh dan kejiwaan manusia.
Lingkungan memiliki peran yang besar bagi perubahan yang positif atau negatif pada individu. Lingkungan yang baik tentu akan membawa pengaruh positif bagi individu, sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan cenderung memperburuk perkembangan individu.
Seorang psikolog ekologis, Urie Brofenbrenner (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2004) menyatakan bahwa lingkungan tersebut bersifat stratifikasi yakni berlapis-lapis dari yang terdekat sampai yang terjauh. Pengaruh lingkungan menjadi lebih kuat pada periode sensitif. Masing-masing pertumbuhan system organ atau anggota tubuh memiliki periode sensitif yang rentan terhadap pengaruh lingkungan.
Pengaruh lingkungan juga tak kalah penting sebagaimana Nabi SAW menerangkan bagaimana pengaruh orangtua terhadap agama, moral dan psikologi umum dari sosialisasi dan perkembangan anak-anak mereka, yaitu :
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ...
Artinya : Tiadalah seorang anak itu dilahirkan kecuali dalam keadaan suci, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi….(HR. al-Bukhary)
Setiap anak terlahir dengan kesiapan fitrah untuk menganut agama yang benar, hanya saja kedua orangtuanya yang mempengaruhi anak dan mengarahkannya pada agama lain, karenanya maka Nabi Saw berwasiat :
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Artinya :  “Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya karena jika tidak binasalah kedua tanganmu”. (HR. al-Bukhary).
Dalam bentuk metaforik, Nabi Saw. mengingatkan kita bagaimana persahabatan yang baik dapat mempengaruhi karakter seseorang menjadi baik begitu pula sebaliknya, seperti sabda beliau :
حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
Artinya : Persamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti pedagang minyak kesturi dan peniup api tukang besi. Si pedagang minyak kesturi mungkin akan memberinya kepadamu atau engkau membeli kepadanya atau setidaknya engkau dapat memperoleh bau yang harum darinya, tapi si peniup api tukang besi mungkin akan membuat pakaianmu terbakar atau mungkin engkau akan mendapat bau yang tidak sedap darinya (HR. al-Bukhary).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar